Menu Utama

Kamis, 03 Januari 2013

Di Tulang Bawang,Long March Petani Jambi Disambut Ratusan Pedagang Pasar



Kondisi cuaca cukuplah terik ketika petani Jambi sudah memasuki daerah Banjar Agung, Tulang Bawang, Lampung, Kamis (3/1). Begitu sampai di pasar unit II Banjar Agung, seratusan pedagang sudah menunggu sembari mengelu-elukan petani.

“Begitu tiba di pasar Unit II Banjar Agung, kawan-kawan pedagang menyambut kami. Mereka mengajak kami ke sekretariatnya,” kata Wondo, salah seorang petani Jambi peserta long march dari Jambi ke Jakarta untuk menuntut penyelesaian konflik agraria.

Para pedagang ini tergabung dalam Forum Pedagang Tradisional (Forpetra). Mereka beranggotakan ribuan pedagang di pasar unit II Banjar Agung.

Menurut Wondo, sambutan para pedagang sangat ramah dan hangat. Tak hanya itu, para pedagang juga menjamu petani dengan makan siang bersama-sama.

Usai makan siang, petani pun beristirahat singkat di sekretariat Forpetra. Lalu, sekitar pukul 15.00 WITA, petani melakukan diskusi informal dengan pengurus Forpetra.

Helen Gultom, salah seorang pengurus Forpetra, menyatakan dukungan terhadap perjuangan petani. Tak lama kemudian, para pengurus Forpetra menyerahkan bantuan berupa air mineral, roti, beras, dan buah-buahan kepada petani.

Ketua Umum Serikat Tani Nasional, Yoris Sindhu Sunarjan, yang mewakili petani, menerima bantuan itu dan menyampaikan ucapan terima kasih dari petani untuk pedagang Forpetra.
Usai penyerahan bantuan, petani bersalaman dengan para pedagang dan sekaligus berpamitan. Aksi long march pun dilanjutkan. Menurut informasi, para petani akan menginap di posko Gerakan Nasional Pasal 33 UUD 1945  di daerah desa Lebuh Dalem, Kecamatan Menggala Timur, Tulang Bawang.
Memasuki hari ke-23 aksi long march petani Jambi menuju Jakarta, sejumlah peserta long march terserang flu, pilek, dan batuk. “Ini disebabkan oleh kondisi cuaca yang tak menentu. Terkadang pagi hingga siang hari cukup terik, tetapi sore menjelang malam mulai hujan,” kata Wondo.



MENGGALA (Lampost.co): Beberapa peserta aksi jalan kaki (longmarch) petani Jambi menuju Istana Negara, Jakarta,. terkena batuk pilek. Melihat kondisi ini, kesehatan peseta diperiksa d Posko Popetra Pasar Unit II, Tulangbawang, Kamis (3-1) siang ini. 

Sejak berangkat, para petani yang tergabung dalam dalam pasukan Ganaspati (Gerakan Nasional Pasal 33 UUD 1945) yang merupakan gabungan petani Jambi dan para aktivis ini, menempuh perjalanan 582 km. Saat tiba di Posko Ganaspati'45 Sekretariat Foerpetra, ratusan pedagang Pasar Unit II secara sukarela menyubangkan sejumlah uang, nasi bungkus, air mineral, buah, dan makanan ringan. (L-1)

Rabu, 02 Januari 2013

Kembali bergerak, Petani Mesuji Mengiringi Aksi Long March 1000 Km Petani Jambi



Laporan : TOGAR HARAHAP

Setelah mengikuti sejumlah acara seremoni dan diskusi dengan petani register 45 Mesuji, hari ini (2/1/2013) petani Jambi melanjutkan aksi long-march menuju Istana Merdeka Jakarta.
Sebelum berangkat, petani register 45 Mesuji sempat menggelar seremoni pelepasan. Sedikitnya 150-an petani Register 45 Mesuji di desa persiapan Mergou Mulia, Kabupaten Mesuji, turut melepas keberangkatan petani Jambi.
Wondo, salah seorang petani Jambi peserta longmarch, menceritakan kisah haru saat pelepasan itu. “Saat pelepasan itu ada hujan rintik-rintik. Kami saling memeluk dan mengucapkan salam perpisahan. Persamaan nasib telah menyatukan kami. Banyak petani yang meneteskan air mata pertanda kuatnya ikatan batin dalam perjuangan kami,” kata Wondo.
Ketua Umum Serikat Tani Nasional Yoris Sindhu Sunarjan memberi sambutan singkat saat pelepasan. “Kami berterima kasih atas dukungan dan solidaritas petani Mesuji. Suntikan semangat dari kawan-kawan petani Mesuji akan menguatkan langkah kami untuk memperjuangkan tanah untuk rakyat dan penegakan pasal 33 UUD 1945,” ucapnya.
Perwakilan petani Mesuji dan Partai Rakyat Demokratik (PRD) Lampung juga memberi sambutan singkat. Pada intinya, mereka menyatakan dukungan penuh terhadap perjuangan petani Jambi. Teriakan “Hidup Petani” mewarnai langkah petani Jambi meninggalkan desa Mergou Mulia.
Jumlah peserta longmarch bertambah menjadi 45 orang. Beberapa petani Mesuji dan ditambah aktivis PRD Lampung bergabung dalam aksi long-march kali ini. Bahkan, musisi reggae Dompak Redflag turut berjalan-kaki bersama petani.

Disambut rakyat di desa-desa

Menjelang siang hari, peserta aksi longmarch memasuki desa Sido Rukun, Kabupaten Mesuji. Ratusan petani desa Sido Rukun langsung menyambut petani di pinggir jalan.
Mereka melambaikan tani seraya meneriakkan “Hidup Petani”. Tak hanya itu, warga desa Sido Rukun juga menyumbang 2 karung beras dan sejumlah dana untuk peserta long march.
Tak hanya itu, di sepanjang perjalanan, petani Jambi peserta long march ini juga menerima sumbangan berupa air mineral, mie instan, dan sejumlah uang.
Menurut rencana, petani peserta long march akan menginap di desa Bujuk, Kecamatan Banjar Margo, Kabupaten Tulang Bawang.

Petani Mesuji Siap Bergabung

Sementara itu, menurut informasi pengurus PRD Lampung, Ahmad Muslimin, petani Mesuji akan mendeklarasikan kesiapan bergabung dalam aksi long march petani Jambi pada hari Jumat (4/1/2013) mendatang.
“Petani register 45 Mesuji Lampung menyatakan dukungan dan siap bergabung dalam aksi long march petani Jambi. Mereka akan mengusung tuntutan enclave tanah ulayat Megou Pak di kawasan register 45 Mesuji,” kata Ahmad Muslimin.
Tak hanya itu, menurut Ahmad Muslimin, para petani peserta aksi long-march akan disambut secara adat oleh Lembaga Adat Megou Pak Tulang Bawang di Rumah Adat Sesat Agung Tulang Bawang.

Petani Jambi Dan Mesuji Rayakan Tahun Baru Bersama



Laporan : TOGAR HARAHAP

Pesta pergantian tahun bukan hanya milik orang-orang kota. Di desa Tunggal Jaya, Register 45 Mesuji, Lampung, seratusan petani juga larut dalam perayaan pergantian tahun.Mereka adalah petani dari Jambi, yang sedang menggelar aksi long march dari Jambi ke Jakarta, dan petani register 45 Mesuji. Aktivis dari PRD, STN, SRMI, dan LMND juga berbaur dengan petani.

Tetapi perayaan tahun baru versi petani ini agak berbeda. Sekitar pukul 08.00 WIB, acara dimulai. Para petani duduk membentuk sebuah lingkaran besar. Diskusi dan refleksi akhir tahun pun dimulai.

Ketua Umum STN Yoris Sindhu Sunarjan memulai acara. Ia menceritakan konflik agrarian yang sedang melilit kaum tani. “Sepanjang tahun 2012 ada 198 kasus konflik agraria. Jumlahnya lebih banyak dibanding tahun sebelumnya yang mencapai 163 kasus,” kata Yoris. Yoris juga menjelaskan, peningkatan jumlah kasus konflik agraria di Indonesia tidak terlepas dari makin derasnya ekspansi modal, khususnya modal asing, dalam beberapa tahun terakhir. “Ekspansi kapital yang begitu massif membutuhkan tanah untuk pengembangan bisnis mereka,” katanya.

Seusai Yoris memberi sambutan, para petani Jambi dan register 45 Mesuji pun mulai angkat bicara. Mereka menceritakan kasus konflik agraria yang sedang mereka alami. Proses diskusi ini pun menjadi ajang tukar pengalaman antara petani Jambi dan petani register 45 Mesuji.

Tiba pukul 11.00 WIB, petani menyetop diskusi mereka, lalu mempersiapkan diri menyambut detik-detik pergantian tahun. Musisi reggae Dompak Red Flag tampil menghibur para petani. Dia menyanyikan hampir semua lagunya yang sudah tiga album, seperti Tidur jangan, Hentikan, Buruh tani, Fight For Socialism, dan lain-lain.
Dan, ketika jarum jam menunjuk pukul 12.00 WIB, petani pun menyulut kembang api dan meluncurkannya ke udara. “Inilah ekspresi harapan kami, bahwa tahun 2013 kehidupan petani Indonesia jauh lebih baik dan tidak ada lagi konflik agrarian,” ujar Wondo, salah seorang petani.
Tak hanya itu, untuk memperkuat keakraban diantara kaum tani, mereka membakar sate. Acara penyambutan pergantian tahun ala petani ini berakhir pada pukul 02.00 WIB.